SAHABAT DALAM PRESTASI
Cerpen Ahmad Zainudin
Pagi ini suasana halaman sekolah
berbeda dengan biasanya, anak-anak OSIS sibuk mondar- mandir menata meja kursi.
Ada yang sibuk membawa tumpukan kertas. Di pinggir aula ada yang menempel banner
gambar calon ketua OSIS. Pak Satpam pun tak kalah sibuk, dia mengatur parkir
motor guru yang hari ini harus pindah tempat, karena tempat parkir biasanya
akan digunakan untuk perkenalan calon
ketua OSIS (caketos), yang istilah lainnya kampanye.
Ada tiga foto yang terpampang di
banner caketos. Foto Salsabila, Deny, dan fotoku. Iya, aku akhirnya dimasukkan
sebagai salah satu calon, meskipun sebetulnya aku tidak berambisi untuk menjadi
ketua OSIS. Rupanya Roni, Nawang, dan Sinol yang yang memaksa mendaftarkan aku
menjadi calon.
Aku datang langsung disambut tiga
anak itu, yang menyebut dirinya tim sukses.
“Gimana Lan, sudah siap kan?” sapa
Roni sambil menjulurkan tangannya menyalamiku.
“Siap apanya?” sahutku dengan nada
kesal, “kalian tega ya, tiba-tiba masang fotoku di situ”.
“Eit, bukan kami yang masang foto
itu, tapi anak-anak OSIS yang mondar-mondir itu loh,” sangkal Sinol terkekeh
sambil menunjuk anak-anak OSIS yang masang banner di panggung acara.
“Sudah, pokoknya kamu tinggal maju
saja Lan. Semua sudah kami siapkan. Ada visi
misi, ada program kerja, ada
program 100 hari. Beres semua, Bos,” timpal Nawang yang memang
terkenal pintar ini.
“Tapi ada satu yang belum kalian
siapkan,” sahutku.
“Apa itu?” tanya mereka bertiga
serempak. “Kekalahan,” tegasku dengan
nada mantap.
“Tapi jangan kawatir, aku telah menyiapkannya
dengan baik dan rapi, sehingga nanti jika kita kalah, kalian tak perlu bingung
dan panik,” kini giliran aku yang menguasai obrolan ini.
“Jangan bicara kekalahan, Lan. Kita
harus optimis dalam meraih cita-cita dan impian. Ingat pesan Pak Mukhlis,
semangat tanpa batas. Itu yang harus kita pegang teguh coi,” kali ini Nawang
yang ambil alih kendali pembicaraan.
Tiba-tiba dari arah kantin datang
rombongan anak perempuan yang semuanya memakai pin yang sama, gambarnya seorang
cewek yang sama dengan di banner caketos. Iya, gambar di pin itu adalah
Salsabila. Rupanya mereka adalah tim sukses Salsabila. Tapi tidak tampak
Salsabila bersama mereka. Mereka tampak membawa selebaran yang berisi visi dan
misi jagonya. Jika menemui siswi, dia bagikan sambil ngomong-ngomong beberapa
saat.
“Wah, mereka sudah bergerak cepat di
kantin sekolah, Lan,” sahut Roni yang
dari tadi memperhatikan
gerak-gerak anak-anak perempuan itu.
“Tenang saja, kita juga akan
melakukan gerakan untuk memenangkan jago
kita,” pungkas Nawang sang penyusun program.
“Tapi, kalau kita gak gerak cepat,
kita akan kalah start, Wang,” sahut
Sinol kawatir.
“Tenang saja,
Nol, aku sudah
menyiapkan strategi untuk menghadapinya,” bujuk Nawang berusaha
meyakinkan teman-temannya.
“Hai, Lan, akhirnya kita bertanding
lagi nih,” sapa Salsabila yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
“Hai, Salsa, kok tiba-tiba dari
belakang? Bikin kaget aja,” aku membalas sapaanya dengan santai untuk menutupi
keterkejutanku.
“Gimana, sudah siap kan?” sahut Salsa
sambil mengerlingkan matanya kepadaku.
“Siap dong, masak gak siap,” jawabku
enteng sambil berusaha menenangkan diri di hadapan Salsa.
“Ok, kalau begitu sampai ketemu nanti
ya di panggung kampanye, hehe,” tantang Salsa kepadaku sambil pergi
meninggalkan kami.
Aku jadi terpancing juga dengan
tantangan anak itu. Aku yang tadinya tidak antusias, jadi tertantang
untuk membuktikan kemampuanku. Ini seperti yang dilakukan petinju ketika
timbang badan. Mereka biasanya saling adu emosi dan mental untuk memanaskan
suasana. Bisa juga untuk menjatuhkan mental lawannya.
Salsa memang calon yang paling kuat
di antara tiga calon. Di samping anaknya cantik, pintar, juga anak orang kaya. Selama ini dia suka
menraktir anak- anak di kantin sekolah. Bahkan waktu ultah, dia bagi- bagi
coklat ke anak-anak yang kebetulan jajan di kantin bersamaan. Sehingga
ibaratnya sudah banyak yang bersimpati kepadanya. Selain itu, memang dia yang
sangat ingin menjadi ketua OSIS.
Suara bel masuk mengakhiri diskusi
pagi ini. Kami segera masuk kelas masing-masing. Kegiatan pagi ini pembiasaan karakter. Belum
ada pelajaran. Seluruh siswa mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan
sekolah. Ada yang nyapu, ada yang menyirami bunga di depan kelas, ada yang
ngosek kamar mandi, dan ada yang membantu tim adiwiyata mengecek kondisi
tanaman. Setiap Jumat itu yang menjadi kegiatan pagi di sekolah kami didampingi guru wali kelas masing-masing.
Rencananya kegiatan kampanye akan
dilaksanakan pukul 09.00 setelah kegiatan bersih- bersih sekolah. Roni, Nawang,
dan Sinol rupanya mereka tidak ikut bersih-bersih kelas. Mereka malah berkumpul
di lapangan voli bersama anak-anak tim voli. Dikelilingi anak-anak voli, Nawang
berbicara sambil tangannya bergerak-gerak memberikan arahan. Sesekali tawa
mereka terdengar sampai di kelasku. Aku
menduga mereka sedang mempersiapkan strategi. Aku semakin salut dengan kesungguhan
mereka. Bahkan aku terbawa semangat mereka.
“Lan, ke sini sebentar, penting!”
teriak Sinol memanggilku dari kejauhan.
Rupanya mereka tahu kalau aku
melihatnya dari kejauhan. Aku pun menghampiri mereka setelah menyelesaikan
tugasku membersihkan bagian depan kelas. Aku berusaha tidak mengecewakan
mereka.
Meskipun sebetulnya aku tidak terlalu antusias dengan
kegiatan kampanye ini.
“Begini, Lan, nanti waktu kampanye
tim voli ini akan siap menjadi suporter kita. Setidaknya biar gak sepi-sepi
amat, Lan,” terang Roni setelah mempersilahkan aku duduk.
“Betul Lan, aku sudah mencari
informasi. Rupanya Deny diam-diam juga sudah merangkul anak basket untuk
menjadi suporternya. Salsabila sudah ngajak anak Paskib. Nah kalo kita gak
punya suporter, gak seru blas Lan,” tambah Sinol sambil bersungut-sungut
meyakinkan.
“Ok, nanti kita tetap tampil dengan
wajar saja. Tidak perlu saling mengejek. Boleh mengunggulkan jagonya, tapi
tidak boleh menjelekkan jago yang lain. Itu prinsip yang aku pegang. Jadi kalo
nanti ada suporter, tetap yang sopan ya, hehe,” pintaku kepada mereka semua.
“Sekarang kita balik dulu ke kelas
ya, nanti ketemu lagi di lapangan parkir sebelah ya,” ajak Nawang mengakhiri
perkumpulan tim suporter.
“Siap Kak,” sahut salah satu
tim voli yang masih junior sambil tos tangan satu per
satu.
Aku kembali ke kelas dengan perasaan
yang berkecamuk dalam hatiku. Entah, tiba-tiba aku mulai bimbang. Yang sejak
awal aku kurang antusias dengan pilketos ini, sekarang mulai terbawa suasana.
Apa aku hanya begini saja, sementara teman-temanku sudah begitu sungguh-sungguh
untuk mendukungku. Meskipun aku tidak berambisi, setidaknya aku tidak ingin
mengecewakan mereka. Aku harus sungguh- sungguh.
“Wang!” teriakku memanggil Nawang
yang nyaris masuk ke kelasnya.
“Iya, Lan?” Nawang yang sudah hampir
masuk pintu kelas langsung menoleh dan menghampiriku di pinggir taman.
“Gimana persiapan
untuk nanti? Seperti
apa? Kamu kan sudah merancang?” ucapku penuh tanya. “Nih, silakan
dibaca dan dipelajari,” ucap Nawang tersenyum sambil menyodorkan
berlembar- lembar tulisan yang sudah diketik rapi.
Senyum Nawang menyiratkan
kegembiraannya karena aku mulai terbawa semangat mereka. Rupanya dia
betul-betul siap. Aku semakin mantap untuk memenuhi harapan teman-temanku ini.
Kubaca lembar demi lembar program yang telah disusunnya. Rupanya dia telah
meringkas hasil diskusi dengan teman-teman jauh hari sebelum ada pendaftaran
caketos ini. Nawang memang cerdas
membaca situasi.
“Wah, benar-benar pinter kamu. Kenapa
gak kamu saja yang maju caketos, Wang? Sudah siap kayak gini?” ucapku.
“Ooh, tidak bisa bos. Untuk maju
dalam pencalonan tidak cukup hanya dengan modal kepintaran. Harus punya modal
lain yang jauh lebih penting. Sudah dikenal dan terkenal. Nah, kamu kan pinter
dan sudah dikenal di sekolah ini. Sudah memenuhi syarat deh,” ucap Nawang yang
nerocos menguasai perbincangan.
“Halah kamu bisa aja, Wang,”
ucapku memotong Nawang yang ngomong terus.
“Ya sudah, ini kubawa dulu,” pintaku
sambil berlalu dari hadapan Nawang.
Aku segera menuju ke kelas untuk
mengecek kebersihan kelas. Jangan sampai kelasku masih kotor setelah kutinggal
koordinasi dengan teman-teman tadi. Karena setelah kegiatan bersih-bersih
seluruh kelas akan dicek oleh Tim Adiwiyata sekolah. Kelas yang masih kotor,
akan mendapat hadiah istimewa dari Tim Adiwiyata berupa bendera hitam. Iya,
bendera hitam, lambang kekotoran.
Sebulan sekali penilaian kebersihan
kelas akan diumumkan setelah upacara bendera tiap awal bulan. Kelas tebersih
dan terkotor akan dipanggil untuk menerima hadiah. Kelas tebersih mendapat
tropi kebersihan, sedangkan kelas terkotor mendapatkan bendera hitam didampingi
seluruh anggota kelas. Wah alangkah malunya kalau sampai mendapat bendera hitam.
Karena itu, setiap kelas sungguh-sungguh dalam membersihkan kelasnya
agar tidak mendapat predikat kelas terkotor di sekolah.
“Lan!” sapa Nita yang tiba-tiba
melongok dari jendela kelasnya. Nita anaknya santai dan setia kepada teman. Dia
pernah jadi satu tim bersamaku dalam panitia HUT RI tahun kemarin. Meskipun
pintar dan punya prestasi, dia tidak ingin menonjolkan diri.
“Maaf, Lan, aku dan teman-teman tidak
bisa membantumu terang-terangan. Aku gak enak sama Salsa. Tapi teman-teman
tetap mendukungmu, kok. Semangat ya. Semoga sukses!” seru Nita sambil tersenyum
dengan suara yang agak ditahan. Mungkin takut terdengar teman yang lain.
“Terima kasih, Nit,” jawabku singkat
karena agak tergesa-gesa.
Kulihat waktu kurang empat puluh
menit lagi. Ucapan Nita yang menyatakan dukungan secara diam- diam membuatku
semakin semangat. Setidaknya bukan hanya
tiga anak: Nawang, Roni, dan Sinol saja yang selama ini terus mendorongku maju.
Jangan- jangan ada Nita-Nita lain yang bersikap sama, tidak menunjukkan
dukungannya secara terbuka. Tidak apa- apa, toh ini sebagai pembelajaran untuk
berdemokrasi yang sehat dan cerdas. Berbeda pilihan bukan berarti bermusuhan.
Kita harus tetap saling menghormati, bukan saling menjatuhkan. Semoga itu juga
yang dipikirkan oleh Salsa dan Deny dalam mengikuti kontestasi pilketos ini.
Jam dinding di kelas menunjukkan
pukul 08.50 menit. Panitia pilketos mulai mengumumkan seluruh siswa untuk
menuju ke halaman sekolah. Satu per satu siswa keluar dari kelas.
“Teman-teman, jangan lupa ya, dukung
Sahlan, teman satu kelas. Kita harus kompak!” seru Roni kepada teman-teman satu
kelas sebelum meninggalkan kelas.
“Setuju...! Hidup Sahlan!,” sahut Yudha wakilku di kelas.
Di halaman sudah berkumpul seluruh
siswa kelas 7, 8, dan 9. Siswa kelas 7 berada di sisi sebelah kanan panggung,
kelas 8 berada di halaman depan panggung, sedangkan kelas 9 menempati di kiri
panggung. Di atas panggung sudah tersedia tiga kursi untuk para calon. Meskipun
ini dengan sesama teman, tapi suasananya sudah berubah menjadi lebih serius,
karena guru-guru juga ikut mengawal dan mendampingi kegiatan ini. Berkumpulnya
seluruh siswa ini membuat suasana semakin bergairah. Setidaknya kami bertiga
tidak boleh main-main dalam menyampaikan programnya.
“Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh…
selamat pagi dan salam sejahtera untuk
kita semua,” sapa Andika pembawa acara yang membuka acara kampanye ini.
“Anak-anak, acara ini adalah bagian
dari pembelajaran, agar kalian bisa belajar berdemokrasi. Berdemokrasilah
secara santun dan berakhlak. Jangan asal bisa menang dengan segala cara,”
nasihat Pak Mukhlis dalam sambutannya
sebagai Waka Kesiswaan.
Nasihat yang sudah kupegang dalam
hatiku. Semoga itu bisa dipahami dan diterapkan seluruh warga sekolah,
khususnya siswa yang mengikuti pemilihan ini.
“Marilah kita panggil tiga putra
terbaik sekolah kita, yang akan memperkenalkan program- programnya sebagai
calon ketua OSIS. Pertama kita panggil Salsaaaaa,” seru Andika menirukan
pembawa acara musik dangdut saat memanggil artis organ tunggal.
“Salsa… Salsa… Salsa….”
teriak pendukung Salsa yang
disuporteri oleh anak-anak Paskib.
Salsa pun tak mau kalah. Dia berjalan
ke panggung dengan melambai-lambaikan tangannya
seolah calon presiden di hadapan para pendukungnya. “Yang kedua
kita panggil Ddddeeeeeny,”
seru Andika lagi yang kali ini hampir mirip memanggil petinju untuk naik
ke ring.
Tak kalah meriahnya, pendukung Deny
yang anak basket pun meneriakkan
yel-yel, “Hidup Deny….! Hidup
Deny…!”
“Selanjutnya yang ketiga kita
persilakan almukarom Sahlan untuk menempati tempat yang telah disediakan,” seru
Andika yang kali ini lebih mirip mempersilakan seorang ustadz yang mau
berceramah.
“Dasar Andika. Bisa aja,” batinku agak geregetan. Tapi itulah salah satu
kemahiran Andika dalam membawa acara.
Aku pun langsung beranjak menuju
panggung berjalan dengan tenang menyesuaikan panggilan yang diberikan Andika.
Seperti yang lain, pendukungku yang
telah disiapkan Nawang dan kawan-kawan langsung meneriakkan yel-yel, “Sahlan…
Sahlan…. Sahlan….”
Aku ingat yang dikatakan Bung Karno,
“Hormatilah musuhmu, karena dia mengetahui kelemahanmu.” Kusalami satu per satu
dua sahabatku ini, Salsa dan Deny. Salsa begitu ramah menyambut salamanku,
begitu juga dengan Deny. Meskipun Deny kelihatan lebih tegang. Walaupun saat
ini kami bersaing dalam kontestasi pemilihan ketua OSIS, aku tidak ingin
menciptakan suasana persaingan yang
tidak sehat. Aku menjadi enjoy dengan kontestasi ini.
Semoga ini seperti yang kubayangkan.
“Selanjutnya marilah kita ikuti
bersama presentasi dan perkenalan dari calon nomor urut satu, Salsabila!” ucap
Andika memulai acara perkenalan untuk masing-masing calon.
Salsa pun maju. Dengan gaya bicaranya
yang khas, penampilannya begitu memikat dan menarik. Terlebih dahulu dia
menyapa aku dan Deny, seolah mohon izin. Kemudian menyapa pendukungnya dengan lambaian tangan, seperti
calon presiden di hadapan massanya.
“Saya akan memajukan sekolah kita
dengan berbagai kegiatan yang lebih modern dan berbasis IT. Kita perkuat
majalah sekolah yang selama ini kurang bergairah,” cetus Salsa dalam
sambutannya.
“Seandainya saya diberikan amanah
untuk menjadi ketua OSIS, saya akan bekerja seoptimal mungkin sesuai dengan
visi, misi, dan program kerja saya,” tambahnya dengan penuh semangat.
Setelah panjang lebar menyampaikan program- programnya, Salsa
mengakhiri dengan pantun.
“Pagi-pagi makan tahu
Enaknya dicampurpapeda
Jika kamu ingin sekolah maju
Pilihlah Salsa sang idola.”
“Salsa….Salsa….Salsa….” gemuruh suara
pendukung Salsa mengiringi akhir sambutannya.
“Selanjutnya, kita ikuti perkenalan
program calon kedua, yaitu Deeeeny!” teriak Andika mempersilahkan Deny maju.
Seperti juga Salsa, Deny pun mohon izin kepada kami berdua
sebelum memulai sambuatnnya.
“Kita harus tahu, bahwa memajukan
sekolah itu tidaklah mudah, tetapi saya akan membuat sekolah ini maju dengan
pesat,” ucap Deny dengan penuh semangat membara.
“Yang perlu kita tingkatkan adalah
ekstra basket. Karena ekstra ini sangat digemari anak-anak muda, baik di sekolah
maupun di luar sekolah,” tambah Deny.
Tiba-tiba di kerumunan siswa kelas 8
dan 9 terjadi keributan. Kelihatan anak laki-laki ada yang melempar sesuatu ke
arah pendukung Salsa. Ini rupanya yang memancing keributan, sehingga terjadi
saling lempar di antara siswa.
“Anak-anak yang baik, silakan tenang
kembali. Jangan ada yang melempar-lempar,” tiba-tiba Pak Mukhlis naik ke
panggung menenangkan siswa yang mulai berbuat keributan.
Di tengah kumpulan siswa, ada siswa
yang berdiri dan mengangkat tangan, “Saya mau tanya. Mengapa hanya ekstra
basket yang disebut-sebut terus? Bukannya banyak ekstra lain yang punya andil
besar membesarkan nama sekolah kita?”
“Kamu jangan mentang-mentang anak
basket, terus hanya menyebut basket di programmu! Bagaimana dengan ekstra-ekstra
yang lain? Betul teman-teman?” sahut siswa di sebelahnya yang bernada tidak
terima.
“Betuuuull…!!!” sorak anak-anak yang
lain di sekitarnya.
“Sebentar, sebentar ya, saya belum
selesai,” jawab Deny dengan gugup.
“Huuuuuh…..” teriak anak-anak menyoraki Deny.
Melihat tanggapan yang bertubi-tubi
dan jawaban Deny yang kurang siap, pendukung Deny mulai terpancing emosinya dan
bereaksi, karena tidak terima Deny diserang.
“Hidup anak basket!” teriak pendukung
Deny yang semakin memanaskan suasana.
Melihat suasana mulai memanas, Pak
Mukhlis kembali mengingatkan agar semua siswa dan calon mengendalikan diri.
Para guru yang tadi memantau dari jauh mulai mendekat ke kerumunan siswa yang
ribut.
“Baiklah, selanjutnya mari kita ikuti
paparan program dari calon nomor tiga, yaitu Sahlan,” ucap Andika lagi setelah
suasana berhasil ditenangkan kembali.
Aku maju ke arah mikropon.
Seperti dua rivalku, aku menyapa calon
yang lain dulu sebelum mulai berbicara.
“Seperti dua calon sebelumnya, saya
juga menginginkan sekolah kita ini semakin baik dan semakin maju. Tidak ada di
antara kita yang menginginkan sekolah kita semakin jelek atau semakin mundur.
Betuuul?” kataku mengawali pengenalan program.
“Betuuul…!” jawab teman-teman,
terutama para pendukungku sendiri.
“Jika dua calon pertama tadi sudah
menyampaikan berbagai program yang sangat bagus tentang kegiatan-kegiatan yang
bersifat prestasi, maka saya akan menambahkan dengan program yang lain yaitu
pentingnya peningkatan akhlak dan kepribadian siswa. Jangan sampai kita lupa
dengan penanaman akhlak mulia, karena tanpa itu, kita tidak punya nilai di
hadapan manusia apalagi di hadapan
Tuhan,” uraiku berapi-api dengan penuh semangat.
“Betuuul..!” tiba-tiba terdengar
teriakan dari arah belakang. Diikuti tepuk tangan meriah bapak ibu guru yang
menyaksikan acara ini. Sebagian siswa pun ikut bertepuk tangan. Aku melihat ke
arah Salsa dan Deny di belakangku, mereka berdua juga ikut tepuk tangan sambil
manggut-manggut tanda setuju.
“Jika saya tidak terpilih, maka saya
titipkan pesan ini kepada siapa pun yang nanti terpilih sebagai ketua OSIS di
sekolah kita ini,” kataku mengakhiri paparan tentang programku.
Tepuk tangan meriah mengiringi
setelah aku mengakhiri sesi pengenalan program.
Kulihat beberapa guru yang ikut menyaksikan kegiatan ini mengangkat
jempolnya ke arah panggung. Entah jempol itu untuk aku atau untuk kami bertiga
yang telah menyampaikan program-program hingga usai. Apapun yang terjadi,
menurutku kami bertiga telah memberikan pembelajaran tentang berdemokrasi bagi
seluruh siswa yang ikut menyaksikan kegiatan ini. Kami bertiga mempunyai
cita-cita yang sama untuk memajukan sekolah ini.
“Demikianlah tadi
acara pengenalan program calon ketua OSIS telah kita ikuti
bersama. Siapa pun nanti yang akan terpilih, harus kita dukung bersama,
karena pasti mempunyai
tujuan yang sama
untuk kebaikan dan kemajuan sekolah kita. Betul kan teman- teman?,” ujar
Andika dengan nada retoris.
“Alhamdulillah kita telah
menyelesaikan tahap pengenalan program para calon ketua OSIS. Selanjutnya
kalian akan menentukan pilihan, siapa yang paling layak untuk menjadi ketua
OSIS. Yang paling penting, bahwa berdemokrasi harus dengan cara yang baik. Berbeda pilihan bukan
berarti kita bermusuhan,” nasihat Pak Dar yang selalu mengawal kegiatan OSIS,
untuk memastikan kegiatan berjalan baik dan aman-aman saja.
Setelah pengenalan, kini memasuki
tahap pemungutan suara. Di depan panggung telah disediakan tiga bilik suara,
masing-masing untuk kelas 7, 8, dan 9. Bilik suara yang terbuat dari kardus
bekas ini hasil olahan tim adiwiyata. Siswa berbaris dan mengantri untuk
mendapatkan surat suara. Seluruh siswa bergiliran masuk ke bilik suara untuk
menentukan pilihan. Seperti pemilu, kertas suara berisi tiga gambar calon.
Siswa yang telah memberikan suaranya, keluar lokasi dengan membubuhkan tinta di
jari kelingkingnya.
Barisan siswa yang antri mulai
berkurang dan semakin sedikit. Sebentar lagi akan dilanjutkan penghitungan
suara.
“Baiklah teman-teman, semua siswa
telah memberikan suaranya. Selanjutnya marilah kita ikuti proses perhitungan
suara,” kembali suara Andhika memandu acara.
“Nomor satu, sah. Nomor satu, sah.
Nomor tiga, sah,” ucap panitia yang bagian membaca kertas suara.
Setiap panitia menyebut nomor yang
dicoblos di surat suara, para pendukung memberikan tanggapan dengan
bersorak-sorak.
Kertas suara terus dibaca dan
dihitung. Jumlah suara nomor satu dan nomor tiga terus bersaing, sedangkan
suara nomor dua mulai tertinggal. Sesekali jumlah suaraku mengungguli Salsa.
Terkadang jumlah suara Salsa yang lebih unggul. Kulihat Deny mulai tidak
semangat lagi. Teman-teman para pendukung mulai bersorak-sorak. Ketika disebut
nomor satu, maka nama Salsa bergema. Sebaliknya ketika yang disebut nomor tiga,
maka namaku yang dielu-elukan.
“Nomor satu, sah. Nomor satu sah.
Nomor tiga, sah,” lagi-lagi suara kami berkejaran.
Kulihat jumlah suara Salsa sudah 376, suara Deny 54, dan
suaraku 373. Entah kurang berapa surat suara lagi yang belum dihitung di kotak
suara. Kulihat Nawang, Roni, dan Sinol tampak tegang. Mereka duduk di bawah pohon mangga yang ada
tempat duduknya. Sesekali mereka seperti orang sedang berdoa.
Sedangkan di sebelah kiri lapangan, di bawah pohon sukun,
terlihat timnya Salsa yang kebanyakan anak cewek tampak resah. Sesekali mereka
memegang dan meremas-remas jilbab yang menutupi kepalanya, seolah sedang pusing.
“Nomor tiga, sah. Nomor tiga sah. Nomor tiga, sah,” tiba-tiba
hitungan suara untuk saya terus-terus hinga jumlahnya menyamai Salsa.
Bukannya tambah senang, kulihat Nawang semakin tegang. Karena
jumlah suara masih belum aman. Aini, salah satu tim Salsa yang paling terlihat
resah. Sesekali dia memukul-mukul genggamannya ke temannya, tanda gemas. Salsa
tampak tegang juga, tetapi dia menutupi dengan senyumnya. Deny sudah tidak
bersemangat lagi, wajahnya tampak layu, karena jumlah suaranya yang tertinggal
jauh. Aku pasrah. Upaya maksimal sudah kami lakukan. Seperti niatku semula, apa
pun hasilnya aku siap. Tidak harus menang. Bahkan aku sudah menyiapkan
kekalahan.
“Baiklah, tinggal satu surat suara lagi, yaitu nomooooor
satu, saaaah… ..,” ucap panitia bagian pembaca surat suara membaca kertas
terakhir yang diambil dari kotak suara.
Akhirnya yang terpilih menjadi ketua OSIS adalah Salsa, hanya
selisih 1 suara dengan suaraku. Pendukung Salsa langsung bersorak-sorak
merayakan kemenangan jagonya. Tak lupa aku memberikan ucapan selamat kepada
Salsa. Deny pun tetap mau memberikan ucapan selamat kepada Salsa. Sebelum turun
dari panggung, kami bertiga bergandengan tangan dan mengangkat tangan, tanda
bahwa kami tetap teman yang baik dan kami tunjukkan bahwa berbeda pilihan bukan
berarti bermusuhan. ***





















































