Selasa, 27 September 2022

CERPEN SAHABAT DALAM PRESTASI

 

SAHABAT DALAM PRESTASI

Cerpen Ahmad Zainudin

Pagi ini suasana halaman sekolah berbeda dengan biasanya, anak-anak OSIS sibuk mondar- mandir menata meja kursi. Ada yang sibuk membawa tumpukan kertas. Di pinggir aula ada yang menempel banner gambar calon ketua OSIS. Pak Satpam pun tak kalah sibuk, dia mengatur parkir motor guru yang hari ini harus pindah tempat, karena tempat parkir biasanya akan digunakan untuk perkenalan  calon ketua OSIS (caketos), yang istilah lainnya kampanye.

Ada tiga foto yang terpampang di banner caketos. Foto Salsabila, Deny, dan fotoku. Iya, aku akhirnya dimasukkan sebagai salah satu calon, meskipun sebetulnya aku tidak berambisi untuk menjadi ketua OSIS. Rupanya Roni, Nawang, dan Sinol yang yang memaksa mendaftarkan aku menjadi calon.

            Aku datang langsung disambut tiga anak itu, yang menyebut dirinya tim sukses.

“Gimana Lan, sudah siap kan?”  sapa  Roni sambil menjulurkan tangannya menyalamiku.

“Siap apanya?” sahutku dengan nada kesal, “kalian tega ya, tiba-tiba masang fotoku di situ”.

“Eit, bukan kami yang masang foto itu, tapi anak-anak OSIS yang mondar-mondir itu loh,” sangkal Sinol terkekeh sambil menunjuk anak-anak OSIS yang masang banner di panggung acara.

“Sudah, pokoknya kamu tinggal maju saja Lan. Semua sudah kami siapkan. Ada visi  misi,  ada program kerja, ada program 100 hari. Beres semua, Bos,” timpal Nawang yang  memang  terkenal  pintar ini.

“Tapi ada satu yang belum kalian siapkan,” sahutku.

“Apa itu?” tanya mereka bertiga serempak. “Kekalahan,”   tegasku   dengan   nada   mantap.

“Tapi   jangan kawatir,           aku      telah    menyiapkannya dengan baik dan rapi, sehingga nanti jika kita kalah, kalian tak perlu bingung dan panik,” kini giliran aku yang menguasai obrolan ini.

“Jangan bicara kekalahan, Lan. Kita harus optimis dalam meraih cita-cita dan impian. Ingat pesan Pak Mukhlis, semangat tanpa batas. Itu yang harus kita pegang teguh coi,” kali ini Nawang yang ambil alih kendali pembicaraan.

Tiba-tiba dari arah kantin datang rombongan anak perempuan yang semuanya memakai pin yang sama, gambarnya seorang cewek yang sama dengan di banner caketos. Iya, gambar di pin itu adalah Salsabila. Rupanya mereka adalah tim sukses Salsabila. Tapi tidak tampak Salsabila bersama mereka. Mereka tampak membawa selebaran yang berisi visi dan misi jagonya. Jika menemui siswi, dia bagikan sambil ngomong-ngomong beberapa saat.

“Wah, mereka sudah bergerak cepat di kantin sekolah, Lan,” sahut Roni yang  dari  tadi memperhatikan gerak-gerak anak-anak perempuan itu.

            “Tenang saja, kita juga akan melakukan gerakan untuk memenangkan jago  kita,”  pungkas  Nawang sang penyusun program.

“Tapi, kalau kita gak gerak cepat, kita  akan kalah start, Wang,” sahut Sinol kawatir.

“Tenang  saja,   Nol,   aku   sudah   menyiapkan strategi untuk menghadapinya,” bujuk Nawang berusaha meyakinkan teman-temannya.

“Hai, Lan, akhirnya kita bertanding lagi nih,” sapa Salsabila yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.

“Hai, Salsa, kok tiba-tiba dari belakang? Bikin kaget aja,” aku membalas sapaanya dengan santai untuk menutupi keterkejutanku.

“Gimana, sudah siap kan?” sahut Salsa sambil mengerlingkan matanya kepadaku.

“Siap dong, masak gak siap,” jawabku enteng sambil berusaha menenangkan diri di hadapan Salsa.

“Ok, kalau begitu sampai ketemu nanti ya di panggung kampanye, hehe,” tantang Salsa kepadaku sambil pergi meninggalkan kami.

            Aku jadi terpancing juga  dengan  tantangan anak itu. Aku yang tadinya tidak antusias, jadi tertantang untuk membuktikan kemampuanku. Ini seperti yang dilakukan petinju ketika timbang badan. Mereka biasanya saling adu emosi dan mental untuk memanaskan suasana. Bisa juga untuk menjatuhkan mental lawannya.

Salsa memang calon yang paling kuat di antara tiga calon. Di samping anaknya cantik, pintar,  juga anak orang kaya. Selama ini dia suka menraktir anak- anak di kantin sekolah. Bahkan waktu ultah, dia bagi- bagi coklat ke anak-anak yang kebetulan jajan di kantin bersamaan. Sehingga ibaratnya sudah banyak yang bersimpati kepadanya. Selain itu, memang dia yang sangat ingin menjadi ketua OSIS.

Suara bel masuk mengakhiri diskusi pagi ini. Kami segera masuk kelas masing-masing.  Kegiatan pagi ini pembiasaan karakter. Belum ada pelajaran. Seluruh siswa mengikuti kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah. Ada yang nyapu, ada yang menyirami bunga di depan kelas, ada yang ngosek kamar mandi, dan ada yang membantu tim adiwiyata mengecek kondisi tanaman. Setiap Jumat itu yang menjadi kegiatan pagi di sekolah kami  didampingi guru wali kelas masing-masing.

Rencananya kegiatan kampanye akan dilaksanakan pukul 09.00 setelah kegiatan bersih- bersih sekolah. Roni, Nawang, dan Sinol rupanya mereka tidak ikut bersih-bersih kelas. Mereka malah berkumpul di lapangan voli bersama anak-anak tim voli. Dikelilingi anak-anak voli, Nawang berbicara sambil tangannya bergerak-gerak memberikan arahan. Sesekali tawa mereka terdengar sampai di  kelasku. Aku menduga mereka sedang mempersiapkan strategi. Aku semakin salut dengan kesungguhan mereka. Bahkan aku terbawa semangat mereka.

“Lan, ke sini sebentar, penting!” teriak Sinol memanggilku dari kejauhan.

Rupanya mereka tahu kalau aku melihatnya dari kejauhan. Aku pun menghampiri mereka setelah menyelesaikan tugasku membersihkan bagian depan kelas. Aku berusaha tidak mengecewakan mereka.

 

Meskipun sebetulnya aku tidak terlalu antusias dengan kegiatan kampanye ini.

“Begini, Lan, nanti waktu kampanye tim voli ini akan siap menjadi suporter kita. Setidaknya biar gak sepi-sepi amat, Lan,” terang Roni setelah mempersilahkan aku duduk.

“Betul Lan, aku sudah mencari informasi. Rupanya Deny diam-diam juga sudah merangkul anak basket untuk menjadi suporternya. Salsabila sudah ngajak anak Paskib. Nah kalo kita gak punya suporter, gak seru blas Lan,” tambah Sinol sambil bersungut-sungut meyakinkan.

“Ok, nanti kita tetap tampil dengan wajar saja. Tidak perlu saling mengejek. Boleh mengunggulkan jagonya, tapi tidak boleh menjelekkan jago yang lain. Itu prinsip yang aku pegang. Jadi kalo nanti ada suporter, tetap yang sopan ya, hehe,” pintaku kepada mereka semua.

“Sekarang kita balik dulu ke kelas ya, nanti ketemu lagi di lapangan parkir sebelah ya,” ajak Nawang mengakhiri perkumpulan tim suporter.

            “Siap Kak,” sahut salah  satu  tim  voli  yang masih junior sambil tos tangan satu per satu.

Aku kembali ke kelas dengan perasaan yang berkecamuk dalam hatiku. Entah, tiba-tiba aku mulai bimbang. Yang sejak awal aku kurang antusias dengan pilketos ini, sekarang mulai terbawa suasana. Apa aku hanya begini saja, sementara teman-temanku sudah begitu sungguh-sungguh untuk mendukungku. Meskipun aku tidak berambisi, setidaknya aku tidak ingin mengecewakan mereka. Aku harus sungguh- sungguh.

“Wang!” teriakku memanggil Nawang yang nyaris masuk ke kelasnya.

“Iya, Lan?” Nawang yang sudah hampir masuk pintu kelas langsung menoleh dan menghampiriku di pinggir taman.

“Gimana  persiapan  untuk  nanti?  Seperti  apa? Kamu kan sudah merancang?” ucapku penuh tanya. “Nih,   silakan   dibaca   dan   dipelajari,”   ucap Nawang tersenyum sambil menyodorkan berlembar- lembar tulisan yang sudah diketik rapi.

            Senyum Nawang menyiratkan kegembiraannya karena aku mulai terbawa semangat mereka. Rupanya dia betul-betul siap. Aku semakin mantap untuk memenuhi harapan teman-temanku ini. Kubaca lembar demi lembar program yang telah disusunnya. Rupanya dia telah meringkas hasil diskusi dengan teman-teman jauh hari sebelum ada pendaftaran caketos  ini. Nawang memang cerdas membaca situasi.

“Wah, benar-benar pinter kamu. Kenapa gak kamu saja yang maju caketos, Wang? Sudah siap kayak gini?” ucapku.

“Ooh, tidak bisa bos. Untuk maju dalam pencalonan tidak cukup hanya dengan modal kepintaran. Harus punya modal lain yang jauh lebih penting. Sudah dikenal dan terkenal. Nah, kamu kan pinter dan sudah dikenal di sekolah ini. Sudah memenuhi syarat deh,” ucap Nawang yang nerocos menguasai perbincangan.

“Halah kamu bisa aja,  Wang,”  ucapku memotong Nawang yang ngomong terus.

            “Ya sudah, ini kubawa dulu,” pintaku sambil berlalu dari hadapan Nawang.

Aku segera menuju ke kelas untuk mengecek kebersihan kelas. Jangan sampai kelasku masih kotor setelah kutinggal koordinasi dengan teman-teman tadi. Karena setelah kegiatan bersih-bersih seluruh kelas akan dicek oleh Tim Adiwiyata sekolah. Kelas yang masih kotor, akan mendapat hadiah istimewa dari Tim Adiwiyata berupa bendera hitam. Iya, bendera hitam, lambang kekotoran.

Sebulan sekali penilaian kebersihan kelas akan diumumkan setelah upacara bendera tiap awal bulan. Kelas tebersih dan terkotor akan dipanggil untuk menerima hadiah. Kelas tebersih mendapat tropi kebersihan, sedangkan kelas terkotor mendapatkan bendera hitam didampingi seluruh anggota kelas. Wah alangkah malunya kalau sampai mendapat bendera hitam. Karena itu, setiap  kelas  sungguh-sungguh dalam membersihkan kelasnya agar tidak mendapat predikat kelas terkotor di sekolah.

            “Lan!” sapa Nita yang tiba-tiba melongok dari jendela kelasnya. Nita anaknya santai dan setia kepada teman. Dia pernah jadi satu tim bersamaku dalam panitia HUT RI tahun kemarin. Meskipun pintar dan punya prestasi, dia tidak ingin menonjolkan diri.

“Maaf, Lan, aku dan teman-teman tidak bisa membantumu terang-terangan. Aku gak enak sama Salsa. Tapi teman-teman tetap mendukungmu, kok. Semangat ya. Semoga sukses!” seru Nita sambil tersenyum dengan suara yang agak ditahan. Mungkin takut terdengar teman yang lain.

“Terima kasih, Nit,” jawabku singkat karena agak tergesa-gesa.

Kulihat waktu kurang empat puluh menit lagi. Ucapan Nita yang menyatakan dukungan secara diam- diam membuatku semakin semangat.  Setidaknya bukan hanya tiga anak: Nawang, Roni, dan Sinol saja yang selama ini terus mendorongku maju. Jangan- jangan ada Nita-Nita lain yang bersikap sama, tidak menunjukkan dukungannya secara terbuka. Tidak apa- apa, toh ini sebagai pembelajaran untuk berdemokrasi yang sehat dan cerdas. Berbeda pilihan bukan berarti bermusuhan. Kita harus tetap saling menghormati, bukan saling menjatuhkan. Semoga itu juga yang dipikirkan oleh Salsa dan Deny dalam mengikuti kontestasi pilketos ini.

Jam dinding di kelas menunjukkan pukul 08.50 menit. Panitia pilketos mulai mengumumkan seluruh siswa untuk menuju ke halaman sekolah. Satu per satu siswa keluar dari kelas.

“Teman-teman, jangan lupa ya, dukung Sahlan, teman satu kelas. Kita harus kompak!” seru Roni kepada teman-teman satu kelas sebelum meninggalkan kelas.

“Setuju...! Hidup Sahlan!,” sahut Yudha wakilku di kelas.

Di halaman sudah berkumpul seluruh siswa kelas 7, 8, dan 9. Siswa kelas 7 berada di sisi sebelah kanan panggung, kelas 8 berada di halaman depan panggung, sedangkan kelas 9 menempati di kiri panggung. Di atas panggung sudah tersedia tiga kursi untuk para calon. Meskipun ini dengan sesama teman, tapi suasananya sudah berubah menjadi lebih serius, karena guru-guru juga ikut mengawal dan mendampingi kegiatan ini. Berkumpulnya seluruh siswa ini membuat suasana semakin bergairah. Setidaknya kami bertiga tidak boleh main-main dalam menyampaikan programnya.

“Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh… selamat pagi dan salam  sejahtera untuk kita semua,” sapa Andika pembawa acara yang membuka acara kampanye ini.

“Anak-anak, acara ini adalah bagian dari pembelajaran, agar kalian bisa belajar berdemokrasi. Berdemokrasilah secara santun dan berakhlak. Jangan asal bisa menang dengan segala cara,” nasihat Pak Mukhlis dalam sambutannya  sebagai  Waka Kesiswaan.

Nasihat yang sudah kupegang dalam hatiku. Semoga itu bisa dipahami dan diterapkan seluruh warga sekolah, khususnya siswa yang mengikuti pemilihan ini.

            “Marilah kita panggil tiga putra terbaik sekolah kita, yang akan memperkenalkan program- programnya sebagai calon ketua OSIS. Pertama kita panggil Salsaaaaa,” seru Andika menirukan pembawa acara musik dangdut saat memanggil artis organ tunggal.

“Salsa… Salsa…  Salsa….”  teriak  pendukung Salsa yang disuporteri oleh anak-anak Paskib.

Salsa pun tak mau kalah. Dia berjalan ke panggung dengan melambai-lambaikan tangannya seolah calon presiden di hadapan para pendukungnya. “Yang  kedua  kita  panggil  Ddddeeeeeny,”  seru Andika lagi yang kali ini hampir mirip memanggil petinju untuk naik ke ring.

Tak kalah meriahnya, pendukung Deny yang anak basket  pun  meneriakkan  yel-yel,  “Hidup Deny….! Hidup Deny…!”

“Selanjutnya yang ketiga kita persilakan almukarom Sahlan untuk menempati tempat yang telah disediakan,” seru Andika yang kali ini lebih mirip mempersilakan seorang ustadz yang mau berceramah.

“Dasar Andika. Bisa aja,” batinku  agak geregetan. Tapi itulah salah satu kemahiran Andika dalam membawa acara.

Aku pun langsung beranjak menuju panggung berjalan dengan tenang menyesuaikan panggilan yang diberikan Andika.

Seperti yang lain, pendukungku yang telah disiapkan Nawang dan kawan-kawan langsung meneriakkan yel-yel, “Sahlan… Sahlan…. Sahlan….”

Aku ingat yang dikatakan Bung Karno, “Hormatilah musuhmu, karena dia mengetahui kelemahanmu.” Kusalami satu per satu dua sahabatku ini, Salsa dan Deny. Salsa begitu ramah menyambut salamanku, begitu juga dengan Deny. Meskipun Deny kelihatan lebih tegang. Walaupun saat ini kami bersaing dalam kontestasi pemilihan ketua OSIS, aku tidak ingin menciptakan suasana persaingan  yang tidak sehat. Aku menjadi enjoy dengan kontestasi ini.

Semoga ini seperti yang kubayangkan.

            “Selanjutnya marilah kita ikuti bersama presentasi dan perkenalan dari calon nomor urut satu, Salsabila!” ucap Andika memulai acara perkenalan untuk masing-masing calon.

Salsa pun maju. Dengan gaya bicaranya yang khas, penampilannya begitu memikat dan menarik. Terlebih dahulu dia menyapa aku dan Deny, seolah mohon izin. Kemudian menyapa  pendukungnya dengan lambaian tangan, seperti calon presiden di hadapan massanya.

“Saya akan memajukan sekolah kita dengan berbagai kegiatan yang lebih modern dan berbasis IT. Kita perkuat majalah sekolah yang selama ini kurang bergairah,” cetus Salsa dalam sambutannya.

“Seandainya saya diberikan amanah untuk menjadi ketua OSIS, saya akan bekerja seoptimal mungkin sesuai dengan visi, misi, dan program kerja saya,” tambahnya dengan penuh semangat.

Setelah panjang lebar menyampaikan program- programnya, Salsa mengakhiri dengan pantun.

“Pagi-pagi makan tahu

Enaknya dicampurpapeda 

Jika kamu ingin sekolah maju

Pilihlah Salsa sang idola.”

“Salsa….Salsa….Salsa….” gemuruh suara pendukung Salsa mengiringi akhir sambutannya.

“Selanjutnya, kita ikuti perkenalan program calon kedua, yaitu Deeeeny!” teriak Andika mempersilahkan Deny maju.

Seperti juga Salsa, Deny pun mohon izin kepada kami berdua sebelum memulai sambuatnnya.

“Kita harus tahu, bahwa memajukan sekolah itu tidaklah mudah, tetapi saya akan membuat sekolah ini maju dengan pesat,” ucap Deny dengan penuh semangat membara.

“Yang perlu kita tingkatkan adalah ekstra basket. Karena ekstra ini sangat digemari anak-anak muda, baik di sekolah maupun di luar sekolah,” tambah Deny.

Tiba-tiba di kerumunan siswa kelas 8 dan 9 terjadi keributan. Kelihatan anak laki-laki ada yang melempar sesuatu ke arah pendukung Salsa. Ini rupanya yang memancing keributan, sehingga terjadi saling lempar di antara siswa.

“Anak-anak yang baik, silakan tenang kembali. Jangan ada yang melempar-lempar,” tiba-tiba Pak Mukhlis naik ke panggung menenangkan siswa yang mulai berbuat keributan.

Di tengah kumpulan siswa, ada siswa yang berdiri dan mengangkat tangan, “Saya mau tanya. Mengapa hanya ekstra basket yang disebut-sebut terus? Bukannya banyak ekstra lain yang punya andil besar membesarkan nama sekolah kita?”

“Kamu jangan mentang-mentang anak basket, terus hanya menyebut basket di programmu! Bagaimana dengan ekstra-ekstra yang lain? Betul teman-teman?” sahut siswa di sebelahnya yang bernada tidak terima.

“Betuuuull…!!!” sorak anak-anak yang lain di sekitarnya.

“Sebentar, sebentar ya, saya belum selesai,” jawab Deny dengan gugup.

            “Huuuuuh…..” teriak   anak-anak       menyoraki Deny.

Melihat           tanggapan yang          bertubi-tubi dan jawaban Deny yang kurang siap, pendukung Deny mulai terpancing emosinya dan bereaksi, karena tidak terima Deny diserang.

“Hidup anak basket!” teriak pendukung Deny yang semakin memanaskan suasana.

Melihat suasana mulai memanas, Pak Mukhlis kembali mengingatkan agar semua siswa dan calon mengendalikan diri. Para guru yang tadi memantau dari jauh mulai mendekat ke kerumunan siswa yang ribut.

“Baiklah, selanjutnya mari kita ikuti paparan program dari calon nomor tiga, yaitu Sahlan,” ucap Andika lagi setelah suasana berhasil ditenangkan kembali.

Aku maju ke arah mikropon. Seperti  dua rivalku, aku menyapa calon yang lain dulu sebelum mulai berbicara.

            “Seperti dua calon sebelumnya, saya juga menginginkan sekolah kita ini semakin baik dan semakin maju. Tidak ada di antara kita yang menginginkan sekolah kita semakin jelek atau semakin mundur. Betuuul?” kataku mengawali pengenalan program.

“Betuuul…!” jawab teman-teman, terutama para pendukungku sendiri.

“Jika dua calon pertama tadi sudah menyampaikan berbagai program yang sangat bagus tentang kegiatan-kegiatan yang bersifat prestasi, maka saya akan menambahkan dengan program yang lain yaitu pentingnya peningkatan akhlak dan kepribadian siswa. Jangan sampai kita lupa dengan penanaman akhlak mulia, karena tanpa itu, kita tidak punya nilai di hadapan manusia apalagi di hadapan  Tuhan,” uraiku berapi-api dengan penuh semangat.

“Betuuul..!” tiba-tiba terdengar teriakan dari arah belakang. Diikuti tepuk tangan meriah bapak ibu guru yang menyaksikan acara ini. Sebagian siswa pun ikut bertepuk tangan. Aku melihat ke arah Salsa dan Deny di belakangku, mereka berdua juga ikut tepuk tangan sambil manggut-manggut tanda setuju.

“Jika saya tidak terpilih, maka saya titipkan pesan ini kepada siapa pun yang nanti terpilih sebagai ketua OSIS di sekolah kita ini,” kataku mengakhiri paparan tentang programku.

Tepuk tangan meriah mengiringi setelah aku mengakhiri sesi pengenalan program.  Kulihat beberapa guru yang ikut menyaksikan kegiatan ini mengangkat jempolnya ke arah panggung. Entah jempol itu untuk aku atau untuk kami bertiga yang telah menyampaikan program-program hingga usai. Apapun yang terjadi, menurutku kami bertiga telah memberikan pembelajaran tentang berdemokrasi bagi seluruh siswa yang ikut menyaksikan kegiatan ini. Kami bertiga mempunyai cita-cita yang sama untuk memajukan sekolah ini.

“Demikianlah  tadi  acara  pengenalan  program calon ketua OSIS telah kita ikuti bersama. Siapa pun nanti yang akan terpilih, harus kita dukung bersama, karena  pasti  mempunyai  tujuan  yang  sama  untuk kebaikan dan kemajuan sekolah kita. Betul kan teman- teman?,” ujar Andika dengan nada retoris.

“Alhamdulillah kita telah menyelesaikan tahap pengenalan program para calon ketua OSIS. Selanjutnya kalian akan menentukan pilihan, siapa yang paling layak untuk menjadi ketua OSIS. Yang paling penting, bahwa berdemokrasi harus  dengan cara yang baik. Berbeda pilihan bukan berarti kita bermusuhan,” nasihat Pak Dar yang selalu mengawal kegiatan OSIS, untuk memastikan kegiatan berjalan baik dan aman-aman saja.

Setelah pengenalan, kini memasuki tahap pemungutan suara. Di depan panggung telah disediakan tiga bilik suara, masing-masing untuk kelas 7, 8, dan 9. Bilik suara yang terbuat dari kardus bekas ini hasil olahan tim adiwiyata. Siswa berbaris dan mengantri untuk mendapatkan surat suara. Seluruh siswa bergiliran masuk ke bilik suara untuk menentukan pilihan. Seperti pemilu, kertas suara berisi tiga gambar calon. Siswa yang telah memberikan suaranya, keluar lokasi dengan membubuhkan tinta di jari kelingkingnya.

Barisan siswa yang antri mulai berkurang dan semakin sedikit. Sebentar lagi akan dilanjutkan penghitungan suara.

“Baiklah teman-teman, semua siswa telah memberikan suaranya. Selanjutnya marilah kita ikuti proses perhitungan suara,” kembali suara Andhika memandu acara.

“Nomor satu, sah. Nomor satu, sah. Nomor tiga, sah,” ucap panitia yang bagian membaca kertas suara.

Setiap panitia menyebut nomor yang dicoblos di surat suara, para pendukung memberikan tanggapan dengan bersorak-sorak.

Kertas suara terus dibaca dan dihitung. Jumlah suara nomor satu dan nomor tiga terus bersaing, sedangkan suara nomor dua mulai tertinggal. Sesekali jumlah suaraku mengungguli Salsa. Terkadang jumlah suara Salsa yang lebih unggul. Kulihat Deny mulai tidak semangat lagi. Teman-teman para pendukung mulai bersorak-sorak. Ketika disebut nomor satu, maka nama Salsa bergema. Sebaliknya ketika yang disebut nomor tiga, maka namaku yang dielu-elukan.

“Nomor satu, sah. Nomor satu sah. Nomor tiga, sah,” lagi-lagi suara kami berkejaran.

            Kulihat jumlah suara Salsa sudah 376, suara Deny 54, dan suaraku 373. Entah kurang berapa surat suara lagi yang belum dihitung di kotak suara. Kulihat Nawang, Roni, dan Sinol tampak tegang.  Mereka duduk di bawah pohon mangga yang ada tempat duduknya. Sesekali mereka seperti orang sedang berdoa.

        Sedangkan di sebelah kiri lapangan, di bawah pohon sukun, terlihat timnya Salsa yang kebanyakan anak cewek tampak resah. Sesekali mereka memegang dan meremas-remas jilbab yang menutupi kepalanya, seolah sedang pusing.

“Nomor tiga, sah. Nomor tiga sah. Nomor tiga, sah,” tiba-tiba hitungan suara untuk saya terus-terus hinga jumlahnya menyamai Salsa.

        Bukannya tambah senang, kulihat Nawang semakin tegang. Karena jumlah suara masih belum aman. Aini, salah satu tim Salsa yang paling terlihat resah. Sesekali dia memukul-mukul genggamannya ke temannya, tanda gemas. Salsa tampak tegang juga, tetapi dia menutupi dengan senyumnya. Deny sudah tidak bersemangat lagi, wajahnya tampak layu, karena jumlah suaranya yang tertinggal jauh. Aku pasrah. Upaya maksimal sudah kami lakukan. Seperti niatku semula, apa pun hasilnya aku siap. Tidak harus menang. Bahkan aku sudah menyiapkan kekalahan.

        “Baiklah, tinggal satu surat suara lagi, yaitu nomooooor satu, saaaah… ..,” ucap panitia bagian pembaca surat suara membaca kertas terakhir yang diambil dari kotak suara.

        Akhirnya yang terpilih menjadi ketua OSIS adalah Salsa, hanya selisih 1 suara dengan suaraku. Pendukung Salsa langsung bersorak-sorak merayakan kemenangan jagonya. Tak lupa aku memberikan ucapan selamat kepada Salsa. Deny pun tetap mau memberikan ucapan selamat kepada Salsa. Sebelum turun dari panggung, kami bertiga bergandengan tangan dan mengangkat tangan, tanda bahwa kami tetap teman yang baik dan kami tunjukkan bahwa berbeda pilihan bukan berarti bermusuhan. ***

PUISI: KENAPA KAU DATANG

 KENAPA KAU DATANG

Karya Ahmad Zainudin


Ketika kau datang

Aku sedang menyiapkan ujian

Bersolek untuk menyambut Ramadhan dan Lebaran

Untuk apa kau datang

“Aku mengajarimu kebiasaan baru Yang berguna bagi kehidupanmu”

Jawabmu

 

Tapi aku masih gagap menerima kehadiranmu

Kututup mulutku

Kukunci rumahku

Kugembok gerbangku

Kuliburkan sekolahku

Kuportal kampungku

Agar kau tak bisa lagi bertamu

“Aku masih di sini belum beranjak pergi” Bisikmu lirih

Terpaksa ku harus mengeja

Siratan makna yang kaubawa

Yang tersembunyi di balik tembok isolasi

Mengaca diri pada pandemi

Segalanya tak berarti

Merendahlah pada yang Maha Tinggi

Nilai Tak Ternilai

 Nilai Tak Ternilai

Cerpen Ahmad Zainudin

“Lan, ke sini sebentar sama Nawang sekalian!” panggil Bu Ira kepada Sahlan yang sedang berjalan di depan ruang guru.

“Iya, Bu,” sahut Sahlan sambil mengikuti Bu Ira menuju ke tempat duduknya di ruang guru.

“Silakan duduk. Hasil rapat guru tadi salah satunya, sekolah akan membentuk tim konselor sebaya untuk mendampingi anak-anak yang bermasalah di sekolah kita ini. Namanya konselor sebaya, berarti yang mendampingi teman sebayanya. Karena kalau dengan temannya sendiri akan lebih dekat dan bisa saling terbuka untuk meng- ungkapkan masalahnya. Salah satu tim konselor sebaya untuk kelas kita adalah kamu, Lan. Nanti bisa dibantu Nawang. Tim konselor sebaya juga didampingi guru yang membimbing dan memotivasi,” urai Bu Ira panjang dan lebar.

“Iya, Bu. Lalu kegiatannya seperti apa, Bu?” tanya Sahlan kepada Bu Ira.

“Tugas kamu menjadi konselor sebaya bagi Anan. Yang sekarang sudah sering tidak masuk sekolah. Bagaimana caranya agar Anan tetap semangat dan mau kembali sekolah. Besok anak-anak yang ditunjuk sebagai tim konselor sebaya akan dikumpulkan untuk mendapat pengarahan dari Pak Rozi dan guru BK,” imbuh Bu Ira.

Sahlan merasa tertantang untuk menjalankan tugas sebagai konselor sebaya. Anan teman sekelasnya yang kalau sekolah sering terlambat, bahkan saat ini sudah lama tidak masuk sekolah. Hampir semua guru memberi catatan buruk kepadanya, karena banyak nilai tugas yang kosong. Jika tidak bisa memenuhi tugas-tugasnya, kemungkinan dia tidak bisa ikut ujian sekolah.

Sepulang sekolah, Sahlan, Nawang, dan Salsa bersiap-siap menuju rumah Anan. Sahlan mengajak Nawang, karena dia lebih tahu rumah Anan. Selain itu, mereka bertiga sahabat dekat. Sambil menunggu Salsa keluar dari kelas, Sahlan menuju ke ruang TU untuk mengambil surat panggilan orang tua yang nanti sekaligus disam- paikan kepada orang tua Anan.

Jalan menuju rumah Anan masuk ke gang perkampungan. Lebar jalannya hanya bisa dilewati motor. Di sisi kanan dan kiri diapit selokan air yang kotor dan menyebarkan bau tak sedap. Kalau tidak biasa lewat sini, mungkin agak bingung, karena banyak gang kecil yang bercabang.

Sampai di rumah Anan, suasana tampak sepi. Pintu rumahnya tertutup. Tetapi dari dalam rumah masih terdengar suara televisi. Di teras yang keramiknya mulai pecah-pecah tergeletak sepeda angin yang biasa di pakai Anan berangkat sekolah.

“Assalamualaikum, permisi!” ucap Nawang sambil mengetuk pintu.

“Waalaikumsalam,” terdengar suara dari balik pintu. Lalu seorang laki-laki agak tua membuka pintu.

“Mencari siapa ya, Nak?” tanya laki-laki tersebut. Mungkin beliau ini kakek Anan yang pernah hadir ke sekolah waktu ada panggilan orang tua.

“Maaf, Pak, kami temannya Anan. Anannya ada, Pak?” tanya Nawang.

“Loh, Anan belum pulang dari sekolah. Dia tadi berangkatnya dijemput temannya yang biasa naik motor. Siapa ya namanya?” jawab si bapak ini agak bingung.

“Tapi dia tadi tidak ada di sekolah, Pak. Makanya kami ke sini untuk menjenguk Anan, barangkali sedang sakit,” kata Sahlan dengan sikap hati-hati, khawatir membuat si bapak ini marah.

“Masya Allah, berarti tadi Anan tidak ada di sekolah? Lah terus ke mana dia?” tanya si bapak ini tambah bingung sambil akhirnya mempersilakan mereka masuk dan duduk di dalam rumahnya.

Kondisi di dalam rumahnya terlihat memprihatinkan. Ada bufet yang berisi buku-buku pelajaran dengan kondisi tidak rapi. Lantai yang tampak kotor karena belum disapu. Ada sangkar burung yang kosong menggantung di atas.

“Mohon maaf, Bapak. Sekalian kami menyampaikan surat undangan orang tua dari sekolah, Pak. Besok Bapak diminta hadir bersama Anan ke sekolah,” kata Sahlan sambil menyerahkan amplop berisi surat yang dari TU. Si bapak itu tampak sedih menerima surat tersebut. Mungkin ini adalah surat undangan yang ke sekian kalinya.

“Baik, nak. Semoga besok saya bisa datang. Karena ayah Anan masih kerja di luar kota. Pulangnya tidak tentu. Kadang satu bulan sekali, kadang dua bulan baru pulang. Saya ini kakeknya yang menemani Anan dan kakaknya,” cerita si bapak dengan nada memelas.

“Sebetulnya tadi kami ingin ketemu Anan, agar bisa ngobrol- ngobrol langsung. Tapi karena dia tidak ada, kalau begitu kami pamit dulu, Pak. Semoga besok Anan sudah masuk sekolah lagi,” kata Sahlan sambil berpamitan pulang beranjak meninggalkan rumah Anan.

“Loh, itu Anan,” tiba-tiba Salsa berteriak menunjuk ke arah depan rumah. Rupanya suara Salsa terdengar oleh Anan. Anan menatap ke arah kami dengan pandangan terkejut.

“Loh, Anan lari, Wang. Anan!” kata Salsa sambil berlari ke arah depan rumah memanggil Anan. Sahlan dan nawang segera mengejar Anan, tapi dia sudah menghilang di belokan gang. Mungkin dia malu kepada Sahlan dan kawan-kawan, karena ketahuan kalau bolos sekolah. Padahal dia berangkat mengenakan seragam sekolah. Rupanya dia mengelabui kakeknya dengan pulang dari bolos seperti jam pulang sekolah.

“Wah, Anan kok seperti itu ya? Melihat kita seperti melihat musuh saja. Gimana kita bisa memotivasi, kalau bertemu saja dia tidak mau,” ujar Salsa khawatir.

“Mungkin dia masih terkejut saja, Sa. Kita perlu pendekatan dengan cara lain,” pungkas Nawang yang tetap optimis.

“Apa yang harus kita lakukan, Wang?” tanya Sahlan pada Nawang.

“Iya, nanti kita coba temui dia di tempat lain, Lan. Aku yakin dia masih bisa kita rangkul kok,” tegas Nawang mantap.

“Baiklah kalau begitu. Kita coba bersama. Bagaimanapun juga, dia adalah teman kita,” kata Sahlan sepakat dengan pernyataan Nawang.

Mereka tinggalkan rumah Anan dengan perasaan yang masih mengganjal di hati. Anan yang dulu teman dekat mereka, tiba-tiba berlari menghindar tanpa pesan. Benar yang dikatakan Bu Ira, ini menjadi tantangan buat mereka untuk bisa menyelesaikan masalah Anan.

***

Besoknya Anan bersama ayahnya hadir di sekolah menemui wali kelas dan guru BK. Bu Ira menunjukkan daftar nilai siswa. Pada kolom nama Anan, tampak banyak nilai yang kosong. Ada juga nilai yang diberi tinta merah.

Setelah mendapatkan informasi dari Bu Ira selaku wali kelas tentang perkembangan belajar Anan di sekolah, ayah Anan menjelaskan masalah yang dihadapi Anan di keluarganya. Ternyata kedua orang tuanya sudah dua tahun bercerai. Ayahnya selama ini harus bekerja di luar kota. Sementara ibunya sudah menikah lagi, dan sudah lama tidak pernah menjenguk Anan. Itulah yang membuat Anan kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Saat menceritakan kondisi keluarganya, ayahnya tak kuasa menahan tangis, karena merasa bersalah tidak bisa memberikan perhatian yang terbaik untuk Anan.

“Tapi, memang demikian kondisi keluarga kami, Bu. Saya mohon maaf, ini semua salah saya sebagai orang tua,” tutur ayah Anan dengan terisak sambil tangannya merangkul Anan yang duduk di sampingnya.

Setelah pertemuan itu, Anan berjanji akan masuk sekolah lagi dan memenuhi tugas-tugas yang masih kosong. Ayah Anan siap memberikan perhatian lebih. Terutama saat ini, Anan akan menghadapi ujian sekolah.

***

“Bagaimana dengan tugas IPA-mu, Nan?” tanya Sahlan. “Sudah aku serahkan Bu Vivi,” jawab Anan kalem. “Alhamdulillah kalau begitu,” jawab Sahlan lega.

“Tapi, Bu Vivi tidak mau memberi nilai, Lan. Katanya aku sudah terlambat,” tambah Anan dengan sedih.

“Mungkin Bu Vivi masih marah, Nan. Sehebat apapun yang kita lakukan, di hadapan orang yang sedang marah itu tidak ada nilainya,” kata Sahlan setengah bernasihat.

“Terus aku harus bagaimana, Lan? Tidak dikerjakan salah, dikerjakan juga salah,” tanya Anan bingung.

“Sabar Nan. Kita harus sabar. Dengan kesabaran, Allah akan memberikan jalan yang terbaik bagi kita. Kalau begitu ayo kita menemui Pak Rozi saja,” lanjut Sahlan. Kebetulan Pak Rozi ada di ruangannya saat jam istirahat.

“Kamu harus sabar. Salah satu resep mencari ilmu itu dengan kesabaran. Bukan hanya guru yang harus sabar menghadapi muridnya, murid juga harus sabar menghadapi gurunya,” nasihat Pak Rozi dengan bijaksana setelah Sahlan menceritakan kondisi Anan.

“Saya memang tidak bisa memberimu nilai, Nan, karena tidak mengajar di kelasmu. Tapi, dengan segala usahamu dan kerja kerasmu saat ini, bagi saya, kamu sudah layak mendapatkan nilai yang sangat baik,” tambah Pak Rozi dengan meyakinkan.

“Terima kasih, Pak,” sahut Anan dengan mimik bahagia.

Tampak wajahnya penuh semangat dan harapan.

***

Hari demi hari perkembangan Anan semakin baik. Dia sudah tidak terlambat lagi, meskipun kadang masih ada tugas yang kurang. Memang masih ada guru yang belum rela memberi Anan nilai dengan begitu saja. Tapi Anan tidak putus asa, karena pintu kelulusan sudah di depan mata. Sahlan dan Nawang turut memberikan semangat agar dia bisa menuntaskan tugasnya sebagai syarat mengikuti ujian.

Sampai akhirnya hasil ujian sekolah diumumkan. Anan termasuk salah satu siswa yang mendapat nilai terbaik sepuluh besar. Ketika perpisahan sekolah, Anan mendapat kepercayaan memberi sambutan perwakilan siswa.

“Saya telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari Bapak/ibu guru semua. Selama ini saya siswa yang banyak masalah, sering bolos, dan tidak mengerjakan tugas. Saya memang tidak mendapatkan nilai yang terbaik di antara teman-teman. Bahkan tugas saya pernah ditolak dan tidak mendapatkan nilai karena terlambat mengumpulkan. Tapi, saya masih dianggap ada di sekolah ini. Saya masih diperlakukan sebagaimana siswa yang lain di sekolah ini. Saya masih diharapkan kembali ke sekolah ini dengan penuh kasih sayang oleh bapak ibu guru.

Bagi saya, itulah nilai yang tak ternilai harganya dalam hidup ini. Nilai yang selama ini saya butuhkan. Nilai yang mungkin juga dibutuhkan oleh siswa-siswa yang lain. Terima kasih Bapak/Ibu guruku yang telah membangkitkan semangatku kembali. Akan kubawa ini sebagai bekal untuk mengejar impian di masa depan. Maafkan, jika saya selama ini banyak merepotkan Bapak/Ibu guru dan teman-temanku.”

Anan mengakhiri sambutannya dengan terisak. Butiran air mata menetes di sudut matanya. Tampak beberapa siswa berkaca-kaca sambil menutup mulutnya menahan tangis. Beberapa guru tampak terharu bahkan meneteskan air mata. Tiba-tiba di barisan belakang kursi tamu ada seorang laki-laki berjalan menuju panggung.

“Ayaaah!” teriak Anan sambil menjulurkan kedua tangannya untuk memeluk lelaki itu. Rupanya Anan tidak tahu jika ayahnya hadir dalam perpisahan tersebut.

Ayahnya tak berkata-kata. Dia langsung memeluk Anan dengan sangat erat. Tampak sebuah kerinduan yang begitu dalam terluapkan. Adegan berpelukan anak dan ayah itu disaksikan ratusan pasang mata. Melihat peristiwa itu, Ibu kepala sekolah berdiri dan bertepuk tangan penuh keharuan. Bapak ibu guru ikut bertepuk tangan diikuti semua siswa dan wali murid yang hadir. ***


Rabu, 22 Desember 2021

PUISI IBU

 Ibu


Perempuan tangguh

Yang melewati  13 nyawa engkau telah bertaruh

Meski ragamu telah rapuh

Semangatmu tak pernah runtuh

Tetap kukuh

Mengantarkan anak-anakmu hingga tumbuh

Melangitkan doa-doa dalam setiap malam bersimpuh

Nasihatmu tentang kehidupan

Akan selalu kupegang

Ceritamu tentang ayah yang telah berpulang

Akan selalu kukenang


Surabaya, 22 Desember 2021






Rabu, 12 Juni 2019

RIYOYO KUPATAN, MENGIKAT SILATURAHMI MELESTARIKAN TRADISI




Dalam rangka silaturahmi dan Halal Bihalal, Takmir Masjid At-Taqwa Warugunung Surabaya menyelenggarakan Rioyo Kupatan pada Selasa, 11 Juni 2019 pukul 19.30. Hadir dalam kegiatan tersebut Pengurus Yayasan dan Takmir Masjid At-Taqwa, Bapak Kapolsek Karangpilang, Ketua RW, Ketua RT, dan tokoh masyarakat. 

Kegiatan dilaksanakan secara sederhana diawali sambutan, pembacaan sholawat nabi, dan makan kupat bersama. Kegiatan tersebut selain untuk mempererat silaturahmi dengan masyarakat, juga untuk melestarikan tradisi kupatan sebagai kearifan lokal masyarakat Jawa yang penuh dengan makna.

FILOSOFI KETUPAT DAN LEPET

Kenapa tiap merayakan Idul Fitri ada ketupat? 
Mari kita songsong dan persiapkan Lebaran...

SEJARAH KETUPAT

Adalah Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan pada masyarakat Jawa. 

Sunan Kalijaga membudayakan 2 kali BAKDA, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Arti Kata Ketupat.

Dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan.
Laku papat artinya empat tindakan.

Ngaku Lepat.

Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang jawa.
Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Laku Papat.

1. Lebaran.
2. Luberan.
3. Leburan.
4. Laburan.

Lebaran.
Sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. 

Luberan.
Meluber atau melimpah, ajakan bersedekah untuk kaum miskin.
Pengeluaran zakat fitrah.

Leburan.
Sudah habis dan lebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Laburan.
Berasal dari kata labur, dengan kapur yang biasa digunakan untuk penjernih air maupun pemutih dinding.
Maksudnya supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

FILOSOFI KUPAT - LEPET

KUPAT
Kenapa mesti dibungkus janur? 
Janur, diambil dari bahasa Arab "Ja'a nur" (telah datang cahaya ). 
Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia.
Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki.
Kenapa? karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja'a nur). 

LEPET
Lepet = silep kang rapet.
Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita kubur/tutup yang rapat.
Jadi setelah ngaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.

Dan... acara Lebaran dengan ketupat dan dengan bersalaman dan saling memohon maaf hanya ada di Indonesia. Tradisi itu dicipta dan tercipta di tanah Jawa, bukan tradisi Arab yg dibawa ke Indonesia.
Jadi, begitu indah tradisi kita.
Wong jowo