Nilai Tak Ternilai
Cerpen Ahmad Zainudin
“Lan, ke sini
sebentar sama Nawang sekalian!” panggil Bu Ira kepada Sahlan yang sedang
berjalan di depan ruang guru.
“Iya, Bu,”
sahut Sahlan sambil mengikuti Bu Ira menuju ke tempat duduknya di ruang guru.
“Silakan
duduk. Hasil rapat guru tadi salah satunya, sekolah akan membentuk tim konselor
sebaya untuk mendampingi anak-anak yang bermasalah di sekolah kita ini. Namanya
konselor sebaya, berarti yang mendampingi teman sebayanya. Karena kalau dengan
temannya sendiri akan lebih dekat dan bisa saling terbuka untuk meng- ungkapkan
masalahnya. Salah satu tim konselor sebaya untuk kelas kita adalah kamu, Lan.
Nanti bisa dibantu Nawang. Tim konselor sebaya juga didampingi guru yang
membimbing dan memotivasi,” urai Bu Ira panjang dan lebar.
“Iya, Bu. Lalu
kegiatannya seperti apa, Bu?” tanya Sahlan kepada Bu Ira.
“Tugas kamu
menjadi konselor sebaya bagi Anan. Yang sekarang sudah sering tidak masuk
sekolah. Bagaimana caranya agar Anan tetap semangat dan mau kembali sekolah.
Besok anak-anak yang ditunjuk sebagai tim konselor sebaya akan dikumpulkan
untuk mendapat pengarahan dari Pak Rozi dan guru BK,” imbuh Bu Ira.
Sahlan merasa
tertantang untuk menjalankan tugas sebagai konselor sebaya. Anan teman
sekelasnya yang kalau sekolah sering terlambat, bahkan saat ini sudah lama
tidak masuk sekolah. Hampir semua guru memberi catatan buruk kepadanya, karena
banyak nilai tugas yang kosong. Jika tidak bisa memenuhi tugas-tugasnya,
kemungkinan dia tidak bisa ikut ujian sekolah.
Sepulang
sekolah, Sahlan, Nawang, dan Salsa bersiap-siap menuju rumah Anan. Sahlan
mengajak Nawang, karena dia lebih tahu rumah Anan. Selain itu, mereka bertiga
sahabat dekat. Sambil menunggu Salsa keluar dari kelas, Sahlan menuju ke ruang
TU untuk mengambil surat panggilan orang tua yang nanti sekaligus disam- paikan
kepada orang tua Anan.
Jalan menuju
rumah Anan masuk ke gang perkampungan. Lebar jalannya hanya bisa dilewati
motor. Di sisi kanan dan kiri diapit selokan air yang kotor dan menyebarkan bau
tak sedap. Kalau tidak biasa lewat sini, mungkin agak bingung, karena banyak
gang kecil yang bercabang.
Sampai di
rumah Anan, suasana tampak sepi. Pintu rumahnya tertutup. Tetapi dari dalam
rumah masih terdengar suara televisi. Di teras yang keramiknya mulai
pecah-pecah tergeletak sepeda angin yang biasa di pakai Anan berangkat sekolah.
“Assalamualaikum,
permisi!” ucap Nawang sambil mengetuk pintu.
“Waalaikumsalam,”
terdengar suara dari balik pintu. Lalu seorang laki-laki agak tua membuka
pintu.
“Mencari siapa
ya, Nak?” tanya laki-laki tersebut. Mungkin beliau ini kakek Anan yang pernah
hadir ke sekolah waktu ada panggilan orang tua.
“Maaf, Pak,
kami temannya Anan. Anannya ada, Pak?” tanya Nawang.
“Loh, Anan
belum pulang dari sekolah. Dia tadi berangkatnya dijemput temannya yang biasa
naik motor. Siapa ya namanya?” jawab si bapak ini agak bingung.
“Tapi dia tadi
tidak ada di sekolah, Pak. Makanya kami ke sini untuk menjenguk Anan,
barangkali sedang sakit,” kata Sahlan dengan sikap hati-hati, khawatir membuat
si bapak ini marah.
“Masya Allah,
berarti tadi Anan tidak ada di sekolah? Lah terus ke mana dia?” tanya si bapak
ini tambah bingung sambil akhirnya mempersilakan mereka masuk dan duduk di
dalam rumahnya.
Kondisi di
dalam rumahnya terlihat memprihatinkan. Ada bufet yang berisi buku-buku
pelajaran dengan kondisi tidak rapi. Lantai yang tampak kotor karena belum
disapu. Ada sangkar burung yang kosong menggantung di atas.
“Mohon maaf,
Bapak. Sekalian kami menyampaikan surat undangan orang tua dari sekolah, Pak.
Besok Bapak diminta hadir bersama Anan ke sekolah,” kata Sahlan sambil
menyerahkan amplop berisi surat yang dari TU. Si bapak itu tampak sedih
menerima surat tersebut. Mungkin ini adalah surat undangan yang ke sekian
kalinya.
“Baik, nak.
Semoga besok saya bisa datang. Karena ayah Anan masih kerja di luar kota.
Pulangnya tidak tentu. Kadang satu bulan sekali, kadang dua bulan baru pulang.
Saya ini kakeknya yang menemani Anan dan kakaknya,” cerita si bapak dengan nada
memelas.
“Sebetulnya
tadi kami ingin ketemu Anan, agar bisa ngobrol- ngobrol langsung. Tapi karena
dia tidak ada, kalau begitu kami pamit dulu, Pak. Semoga besok Anan sudah masuk
sekolah lagi,” kata Sahlan sambil berpamitan pulang beranjak meninggalkan rumah
Anan.
“Loh, itu
Anan,” tiba-tiba Salsa berteriak menunjuk ke arah depan rumah. Rupanya suara
Salsa terdengar oleh Anan. Anan menatap ke arah kami dengan pandangan terkejut.
“Loh, Anan
lari, Wang. Anan!” kata Salsa sambil berlari ke arah depan rumah memanggil
Anan. Sahlan dan nawang segera mengejar Anan, tapi dia sudah menghilang di
belokan gang. Mungkin dia malu kepada Sahlan dan kawan-kawan, karena ketahuan
kalau bolos sekolah. Padahal dia berangkat mengenakan seragam sekolah. Rupanya
dia mengelabui kakeknya dengan pulang dari bolos seperti jam pulang sekolah.
“Wah, Anan kok
seperti itu ya? Melihat kita seperti melihat musuh saja. Gimana kita bisa
memotivasi, kalau bertemu saja dia tidak mau,” ujar Salsa khawatir.
“Mungkin dia
masih terkejut saja, Sa. Kita perlu pendekatan dengan cara lain,” pungkas
Nawang yang tetap optimis.
“Apa yang harus
kita lakukan, Wang?” tanya Sahlan pada Nawang.
“Iya, nanti
kita coba temui dia di tempat lain, Lan. Aku yakin dia masih bisa kita rangkul
kok,” tegas Nawang mantap.
“Baiklah kalau
begitu. Kita coba bersama. Bagaimanapun juga, dia adalah teman kita,” kata
Sahlan sepakat dengan pernyataan Nawang.
Mereka
tinggalkan rumah Anan dengan perasaan yang masih mengganjal di hati. Anan yang
dulu teman dekat mereka, tiba-tiba berlari menghindar tanpa pesan. Benar yang
dikatakan Bu Ira, ini menjadi tantangan buat mereka untuk bisa menyelesaikan
masalah Anan.
***
Besoknya Anan
bersama ayahnya hadir di sekolah menemui wali kelas dan guru BK. Bu Ira
menunjukkan daftar nilai siswa. Pada kolom nama Anan, tampak banyak nilai yang
kosong. Ada juga nilai yang diberi tinta merah.
Setelah
mendapatkan informasi dari Bu Ira selaku wali kelas tentang perkembangan
belajar Anan di sekolah, ayah Anan menjelaskan masalah yang dihadapi Anan di
keluarganya. Ternyata kedua orang tuanya sudah dua tahun bercerai. Ayahnya
selama ini harus bekerja di luar kota. Sementara ibunya sudah menikah lagi, dan
sudah lama tidak pernah menjenguk Anan. Itulah yang membuat Anan kurang kasih
sayang dan perhatian dari orang tuanya. Saat menceritakan kondisi keluarganya,
ayahnya tak kuasa menahan tangis, karena merasa bersalah tidak bisa memberikan
perhatian yang terbaik untuk Anan.
“Tapi, memang
demikian kondisi keluarga kami, Bu. Saya mohon maaf, ini semua salah saya
sebagai orang tua,” tutur ayah Anan dengan terisak sambil tangannya merangkul
Anan yang duduk di sampingnya.
Setelah
pertemuan itu, Anan berjanji akan masuk sekolah lagi dan memenuhi tugas-tugas
yang masih kosong. Ayah Anan siap memberikan perhatian lebih. Terutama saat
ini, Anan akan menghadapi ujian sekolah.
***
“Bagaimana
dengan tugas IPA-mu, Nan?” tanya Sahlan. “Sudah aku serahkan Bu Vivi,” jawab
Anan kalem. “Alhamdulillah kalau begitu,” jawab Sahlan lega.
“Tapi, Bu Vivi
tidak mau memberi nilai, Lan. Katanya aku sudah terlambat,” tambah Anan dengan
sedih.
“Mungkin Bu
Vivi masih marah, Nan. Sehebat apapun yang kita lakukan, di hadapan orang yang
sedang marah itu tidak ada nilainya,” kata Sahlan setengah bernasihat.
“Terus aku
harus bagaimana, Lan? Tidak dikerjakan salah, dikerjakan juga salah,” tanya
Anan bingung.
“Sabar Nan.
Kita harus sabar. Dengan kesabaran, Allah akan memberikan jalan yang terbaik
bagi kita. Kalau begitu ayo kita menemui Pak Rozi saja,” lanjut Sahlan.
Kebetulan Pak Rozi ada di ruangannya saat jam istirahat.
“Kamu harus
sabar. Salah satu resep mencari ilmu itu dengan kesabaran. Bukan hanya guru
yang harus sabar menghadapi muridnya, murid juga harus sabar menghadapi
gurunya,” nasihat Pak Rozi dengan bijaksana setelah Sahlan menceritakan kondisi
Anan.
“Saya memang
tidak bisa memberimu nilai, Nan, karena tidak mengajar di kelasmu. Tapi, dengan
segala usahamu dan kerja kerasmu saat ini, bagi saya, kamu sudah layak
mendapatkan nilai yang sangat baik,” tambah Pak Rozi dengan meyakinkan.
“Terima kasih,
Pak,” sahut Anan dengan mimik bahagia.
Tampak wajahnya penuh semangat
dan harapan.
***
Hari demi hari
perkembangan Anan semakin baik. Dia sudah tidak terlambat lagi, meskipun kadang
masih ada tugas yang kurang. Memang masih ada guru yang belum rela memberi Anan
nilai dengan begitu saja. Tapi Anan tidak putus asa, karena pintu kelulusan
sudah di depan mata. Sahlan dan Nawang turut memberikan semangat agar dia bisa
menuntaskan tugasnya sebagai syarat mengikuti ujian.
Sampai
akhirnya hasil ujian sekolah diumumkan. Anan termasuk salah satu siswa yang
mendapat nilai terbaik sepuluh besar. Ketika perpisahan sekolah, Anan mendapat
kepercayaan memberi sambutan perwakilan siswa.
“Saya telah
mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari Bapak/ibu guru semua. Selama
ini saya siswa yang banyak masalah, sering bolos, dan tidak mengerjakan tugas.
Saya memang tidak mendapatkan nilai yang terbaik di antara teman-teman. Bahkan
tugas saya pernah ditolak dan tidak mendapatkan nilai karena terlambat
mengumpulkan. Tapi, saya masih dianggap ada di sekolah ini. Saya masih
diperlakukan sebagaimana siswa yang lain di sekolah ini. Saya masih diharapkan
kembali ke sekolah ini dengan penuh kasih sayang oleh bapak ibu guru.
Bagi saya,
itulah nilai yang tak ternilai harganya dalam hidup ini. Nilai yang selama ini
saya butuhkan. Nilai yang mungkin juga dibutuhkan oleh siswa-siswa yang lain.
Terima kasih Bapak/Ibu guruku yang telah membangkitkan semangatku kembali. Akan
kubawa ini sebagai bekal untuk mengejar impian di masa depan. Maafkan, jika
saya selama ini banyak merepotkan Bapak/Ibu guru dan teman-temanku.”
Anan
mengakhiri sambutannya dengan terisak. Butiran air mata menetes di sudut
matanya. Tampak beberapa siswa berkaca-kaca sambil menutup mulutnya menahan
tangis. Beberapa guru tampak terharu bahkan meneteskan air mata. Tiba-tiba di
barisan belakang kursi tamu ada seorang laki-laki berjalan menuju panggung.
“Ayaaah!”
teriak Anan sambil menjulurkan kedua tangannya untuk memeluk lelaki itu.
Rupanya Anan tidak tahu jika ayahnya hadir dalam perpisahan tersebut.
Ayahnya tak
berkata-kata. Dia langsung memeluk Anan dengan sangat erat. Tampak sebuah
kerinduan yang begitu dalam terluapkan. Adegan berpelukan anak dan ayah itu
disaksikan ratusan pasang mata. Melihat peristiwa itu, Ibu kepala sekolah
berdiri dan bertepuk tangan penuh keharuan. Bapak ibu guru ikut bertepuk tangan
diikuti semua siswa dan wali murid yang hadir. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar