Selasa, 27 September 2022

Nilai Tak Ternilai

 Nilai Tak Ternilai

Cerpen Ahmad Zainudin

“Lan, ke sini sebentar sama Nawang sekalian!” panggil Bu Ira kepada Sahlan yang sedang berjalan di depan ruang guru.

“Iya, Bu,” sahut Sahlan sambil mengikuti Bu Ira menuju ke tempat duduknya di ruang guru.

“Silakan duduk. Hasil rapat guru tadi salah satunya, sekolah akan membentuk tim konselor sebaya untuk mendampingi anak-anak yang bermasalah di sekolah kita ini. Namanya konselor sebaya, berarti yang mendampingi teman sebayanya. Karena kalau dengan temannya sendiri akan lebih dekat dan bisa saling terbuka untuk meng- ungkapkan masalahnya. Salah satu tim konselor sebaya untuk kelas kita adalah kamu, Lan. Nanti bisa dibantu Nawang. Tim konselor sebaya juga didampingi guru yang membimbing dan memotivasi,” urai Bu Ira panjang dan lebar.

“Iya, Bu. Lalu kegiatannya seperti apa, Bu?” tanya Sahlan kepada Bu Ira.

“Tugas kamu menjadi konselor sebaya bagi Anan. Yang sekarang sudah sering tidak masuk sekolah. Bagaimana caranya agar Anan tetap semangat dan mau kembali sekolah. Besok anak-anak yang ditunjuk sebagai tim konselor sebaya akan dikumpulkan untuk mendapat pengarahan dari Pak Rozi dan guru BK,” imbuh Bu Ira.

Sahlan merasa tertantang untuk menjalankan tugas sebagai konselor sebaya. Anan teman sekelasnya yang kalau sekolah sering terlambat, bahkan saat ini sudah lama tidak masuk sekolah. Hampir semua guru memberi catatan buruk kepadanya, karena banyak nilai tugas yang kosong. Jika tidak bisa memenuhi tugas-tugasnya, kemungkinan dia tidak bisa ikut ujian sekolah.

Sepulang sekolah, Sahlan, Nawang, dan Salsa bersiap-siap menuju rumah Anan. Sahlan mengajak Nawang, karena dia lebih tahu rumah Anan. Selain itu, mereka bertiga sahabat dekat. Sambil menunggu Salsa keluar dari kelas, Sahlan menuju ke ruang TU untuk mengambil surat panggilan orang tua yang nanti sekaligus disam- paikan kepada orang tua Anan.

Jalan menuju rumah Anan masuk ke gang perkampungan. Lebar jalannya hanya bisa dilewati motor. Di sisi kanan dan kiri diapit selokan air yang kotor dan menyebarkan bau tak sedap. Kalau tidak biasa lewat sini, mungkin agak bingung, karena banyak gang kecil yang bercabang.

Sampai di rumah Anan, suasana tampak sepi. Pintu rumahnya tertutup. Tetapi dari dalam rumah masih terdengar suara televisi. Di teras yang keramiknya mulai pecah-pecah tergeletak sepeda angin yang biasa di pakai Anan berangkat sekolah.

“Assalamualaikum, permisi!” ucap Nawang sambil mengetuk pintu.

“Waalaikumsalam,” terdengar suara dari balik pintu. Lalu seorang laki-laki agak tua membuka pintu.

“Mencari siapa ya, Nak?” tanya laki-laki tersebut. Mungkin beliau ini kakek Anan yang pernah hadir ke sekolah waktu ada panggilan orang tua.

“Maaf, Pak, kami temannya Anan. Anannya ada, Pak?” tanya Nawang.

“Loh, Anan belum pulang dari sekolah. Dia tadi berangkatnya dijemput temannya yang biasa naik motor. Siapa ya namanya?” jawab si bapak ini agak bingung.

“Tapi dia tadi tidak ada di sekolah, Pak. Makanya kami ke sini untuk menjenguk Anan, barangkali sedang sakit,” kata Sahlan dengan sikap hati-hati, khawatir membuat si bapak ini marah.

“Masya Allah, berarti tadi Anan tidak ada di sekolah? Lah terus ke mana dia?” tanya si bapak ini tambah bingung sambil akhirnya mempersilakan mereka masuk dan duduk di dalam rumahnya.

Kondisi di dalam rumahnya terlihat memprihatinkan. Ada bufet yang berisi buku-buku pelajaran dengan kondisi tidak rapi. Lantai yang tampak kotor karena belum disapu. Ada sangkar burung yang kosong menggantung di atas.

“Mohon maaf, Bapak. Sekalian kami menyampaikan surat undangan orang tua dari sekolah, Pak. Besok Bapak diminta hadir bersama Anan ke sekolah,” kata Sahlan sambil menyerahkan amplop berisi surat yang dari TU. Si bapak itu tampak sedih menerima surat tersebut. Mungkin ini adalah surat undangan yang ke sekian kalinya.

“Baik, nak. Semoga besok saya bisa datang. Karena ayah Anan masih kerja di luar kota. Pulangnya tidak tentu. Kadang satu bulan sekali, kadang dua bulan baru pulang. Saya ini kakeknya yang menemani Anan dan kakaknya,” cerita si bapak dengan nada memelas.

“Sebetulnya tadi kami ingin ketemu Anan, agar bisa ngobrol- ngobrol langsung. Tapi karena dia tidak ada, kalau begitu kami pamit dulu, Pak. Semoga besok Anan sudah masuk sekolah lagi,” kata Sahlan sambil berpamitan pulang beranjak meninggalkan rumah Anan.

“Loh, itu Anan,” tiba-tiba Salsa berteriak menunjuk ke arah depan rumah. Rupanya suara Salsa terdengar oleh Anan. Anan menatap ke arah kami dengan pandangan terkejut.

“Loh, Anan lari, Wang. Anan!” kata Salsa sambil berlari ke arah depan rumah memanggil Anan. Sahlan dan nawang segera mengejar Anan, tapi dia sudah menghilang di belokan gang. Mungkin dia malu kepada Sahlan dan kawan-kawan, karena ketahuan kalau bolos sekolah. Padahal dia berangkat mengenakan seragam sekolah. Rupanya dia mengelabui kakeknya dengan pulang dari bolos seperti jam pulang sekolah.

“Wah, Anan kok seperti itu ya? Melihat kita seperti melihat musuh saja. Gimana kita bisa memotivasi, kalau bertemu saja dia tidak mau,” ujar Salsa khawatir.

“Mungkin dia masih terkejut saja, Sa. Kita perlu pendekatan dengan cara lain,” pungkas Nawang yang tetap optimis.

“Apa yang harus kita lakukan, Wang?” tanya Sahlan pada Nawang.

“Iya, nanti kita coba temui dia di tempat lain, Lan. Aku yakin dia masih bisa kita rangkul kok,” tegas Nawang mantap.

“Baiklah kalau begitu. Kita coba bersama. Bagaimanapun juga, dia adalah teman kita,” kata Sahlan sepakat dengan pernyataan Nawang.

Mereka tinggalkan rumah Anan dengan perasaan yang masih mengganjal di hati. Anan yang dulu teman dekat mereka, tiba-tiba berlari menghindar tanpa pesan. Benar yang dikatakan Bu Ira, ini menjadi tantangan buat mereka untuk bisa menyelesaikan masalah Anan.

***

Besoknya Anan bersama ayahnya hadir di sekolah menemui wali kelas dan guru BK. Bu Ira menunjukkan daftar nilai siswa. Pada kolom nama Anan, tampak banyak nilai yang kosong. Ada juga nilai yang diberi tinta merah.

Setelah mendapatkan informasi dari Bu Ira selaku wali kelas tentang perkembangan belajar Anan di sekolah, ayah Anan menjelaskan masalah yang dihadapi Anan di keluarganya. Ternyata kedua orang tuanya sudah dua tahun bercerai. Ayahnya selama ini harus bekerja di luar kota. Sementara ibunya sudah menikah lagi, dan sudah lama tidak pernah menjenguk Anan. Itulah yang membuat Anan kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Saat menceritakan kondisi keluarganya, ayahnya tak kuasa menahan tangis, karena merasa bersalah tidak bisa memberikan perhatian yang terbaik untuk Anan.

“Tapi, memang demikian kondisi keluarga kami, Bu. Saya mohon maaf, ini semua salah saya sebagai orang tua,” tutur ayah Anan dengan terisak sambil tangannya merangkul Anan yang duduk di sampingnya.

Setelah pertemuan itu, Anan berjanji akan masuk sekolah lagi dan memenuhi tugas-tugas yang masih kosong. Ayah Anan siap memberikan perhatian lebih. Terutama saat ini, Anan akan menghadapi ujian sekolah.

***

“Bagaimana dengan tugas IPA-mu, Nan?” tanya Sahlan. “Sudah aku serahkan Bu Vivi,” jawab Anan kalem. “Alhamdulillah kalau begitu,” jawab Sahlan lega.

“Tapi, Bu Vivi tidak mau memberi nilai, Lan. Katanya aku sudah terlambat,” tambah Anan dengan sedih.

“Mungkin Bu Vivi masih marah, Nan. Sehebat apapun yang kita lakukan, di hadapan orang yang sedang marah itu tidak ada nilainya,” kata Sahlan setengah bernasihat.

“Terus aku harus bagaimana, Lan? Tidak dikerjakan salah, dikerjakan juga salah,” tanya Anan bingung.

“Sabar Nan. Kita harus sabar. Dengan kesabaran, Allah akan memberikan jalan yang terbaik bagi kita. Kalau begitu ayo kita menemui Pak Rozi saja,” lanjut Sahlan. Kebetulan Pak Rozi ada di ruangannya saat jam istirahat.

“Kamu harus sabar. Salah satu resep mencari ilmu itu dengan kesabaran. Bukan hanya guru yang harus sabar menghadapi muridnya, murid juga harus sabar menghadapi gurunya,” nasihat Pak Rozi dengan bijaksana setelah Sahlan menceritakan kondisi Anan.

“Saya memang tidak bisa memberimu nilai, Nan, karena tidak mengajar di kelasmu. Tapi, dengan segala usahamu dan kerja kerasmu saat ini, bagi saya, kamu sudah layak mendapatkan nilai yang sangat baik,” tambah Pak Rozi dengan meyakinkan.

“Terima kasih, Pak,” sahut Anan dengan mimik bahagia.

Tampak wajahnya penuh semangat dan harapan.

***

Hari demi hari perkembangan Anan semakin baik. Dia sudah tidak terlambat lagi, meskipun kadang masih ada tugas yang kurang. Memang masih ada guru yang belum rela memberi Anan nilai dengan begitu saja. Tapi Anan tidak putus asa, karena pintu kelulusan sudah di depan mata. Sahlan dan Nawang turut memberikan semangat agar dia bisa menuntaskan tugasnya sebagai syarat mengikuti ujian.

Sampai akhirnya hasil ujian sekolah diumumkan. Anan termasuk salah satu siswa yang mendapat nilai terbaik sepuluh besar. Ketika perpisahan sekolah, Anan mendapat kepercayaan memberi sambutan perwakilan siswa.

“Saya telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari Bapak/ibu guru semua. Selama ini saya siswa yang banyak masalah, sering bolos, dan tidak mengerjakan tugas. Saya memang tidak mendapatkan nilai yang terbaik di antara teman-teman. Bahkan tugas saya pernah ditolak dan tidak mendapatkan nilai karena terlambat mengumpulkan. Tapi, saya masih dianggap ada di sekolah ini. Saya masih diperlakukan sebagaimana siswa yang lain di sekolah ini. Saya masih diharapkan kembali ke sekolah ini dengan penuh kasih sayang oleh bapak ibu guru.

Bagi saya, itulah nilai yang tak ternilai harganya dalam hidup ini. Nilai yang selama ini saya butuhkan. Nilai yang mungkin juga dibutuhkan oleh siswa-siswa yang lain. Terima kasih Bapak/Ibu guruku yang telah membangkitkan semangatku kembali. Akan kubawa ini sebagai bekal untuk mengejar impian di masa depan. Maafkan, jika saya selama ini banyak merepotkan Bapak/Ibu guru dan teman-temanku.”

Anan mengakhiri sambutannya dengan terisak. Butiran air mata menetes di sudut matanya. Tampak beberapa siswa berkaca-kaca sambil menutup mulutnya menahan tangis. Beberapa guru tampak terharu bahkan meneteskan air mata. Tiba-tiba di barisan belakang kursi tamu ada seorang laki-laki berjalan menuju panggung.

“Ayaaah!” teriak Anan sambil menjulurkan kedua tangannya untuk memeluk lelaki itu. Rupanya Anan tidak tahu jika ayahnya hadir dalam perpisahan tersebut.

Ayahnya tak berkata-kata. Dia langsung memeluk Anan dengan sangat erat. Tampak sebuah kerinduan yang begitu dalam terluapkan. Adegan berpelukan anak dan ayah itu disaksikan ratusan pasang mata. Melihat peristiwa itu, Ibu kepala sekolah berdiri dan bertepuk tangan penuh keharuan. Bapak ibu guru ikut bertepuk tangan diikuti semua siswa dan wali murid yang hadir. ***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar